on 01 Juni 2022

 KKN merupakan salah satu mata kuliah yang wajib dilaksanakan bagi para mahasiswa/i Semester VII Program Sarjana di Universitas Nusa Mandiri. KKN merupakan satu perwujudan pengabdian kepada masyarakat yang merupakan bagian dari Tridharma Perguruan Tinggi. Banyak manfaat yang dapat diraih dari kegiatan KKN ini, baik untuk masyarakat sasaran, mahasiswa, maupun Universitas Nusa Mandiri sendiri. Mahasiswa akan memadukan dan menerapkan ilmu yang telah mereka dapatkan untuk membantu menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat.

Dengan didorong keinginan untuk membantu masyarakat yang terkena dampak Covid-19 di lingkungannya dan untuk memberikan manfaat bagi tempat tinggalnya, seorang mahasiswi Nusa Mandiri Cabang Jatiwaringin (Neti Nurhayati, 35) memutuskan membuat KKN pengabdian masyarakat dilingkungan tempat tinggal mahasiswa tersebut, yaitu di RT003/Rw014 Kelurahan Jatisampurna Bekasi.
Setelah melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing yaitu Bapak Numan Mussafa, mahasiswi Nusa Mandiri ini lalu berkoordinasi dengan ketua RT003/Rw014 yaitu Bapak Gofaroji untuk pelaksanaan KKN yang akan di laksanakan di kelurahan Jatisampurna tersebut. Bapak Ketua RT yang menyetujui perencanaan yang diajukan oleh mahasiswi Nusa Mandiri, selanjutnya menyerahkan proses pelaksanaan kegiatan tersebut sepenuhnya kepada mahasiswi dengan syarat pelaksanaannya dilakukan dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.
Pada hari Sabtu, 28 Mei 2022 pelaksanaan KKN pun dimulai dengan membagikan makan siang kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan. Seperti tukang sol sepatu, buruh bangunan, penjahit keliling, pemulung, dan tukang loak.

                   Tukang Loak (Jual/Beli Barang Bekas). Credit : Neti Nurhayati

Penjahit Keliling. Credit : Neti Nurhayati



Pemulung. Credit : Neti Nurhayati



Tukang sol sepatu di lingkungan RT003/RW014. Credit : Neti Nurhayati



Buruh Bangunan. Credit : Neti Nurhayati



Kegiatan KKN Pengabdian masyarakat ini diharapkan mampu membantu masyarakat yang terkena dampak COVID-19 di lingkungan RT003/Rw014, dan mengajak mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat sasaran untuk melihat masalah dan kebutuhan yang ada untuk kemudian memberikan solusi dan membantu serta memberikan manfaat bagi masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.

on 17 September 2019
Dan tiba sudah aku pada hari ini
hari kebebasanku
hari yg sudah aku tunggu,
hari saat tidak ada lagi yg mengaum...
mengancam aku,
mataku sudah tak sembab seperti dulu
senyum dikulum, padahal aku tak tau masa depanku
tp di masa ini, harapan sepertinya hadir kembali
sungguh aku sudah berjanji
akan berjuang hidup sampai mati
demi aku, dan seorang anak berhati peri
aaaahhhh...
entah bagaimana aku bisa kurus lagi
kalau aku sebahagia ini
on 10 November 2017
Aku tak pernah membenci hujan
Walau ribuan sepi menggelayar di balik rintiknya
Membuat setiap kenangan seperti di runut ulang,
kembali...
Untuk menghantui mu

Aku tak pernah membenci hujan
Biar dingin meresapi relung jiwa jiwa terlantar di kehampaan malam
Membuatmu merindukan teman minum kopi khayalan

Sampai saat ini,
Saat duniaku terjungkal, jungkir balik
Aku membenci hujan...

Setiap tetesnya masih terasa menusuk nusuk kulitku, lalu membakarnya
Setiap hela udaranya, menampar tepat di wajah, sakit...
Lukanya sampai ke hati
Entah mana yang lebih deras, hujan malam itu atau mataku yang tak hentinya mengiba nasib.

Saat itu, aku mulai membenci hujan
Rasanya aku tak mungkin ingin pergi ke luar  rumah lagi.

on 02 April 2017
jika aku memutuskan,
untuk mengakhiri semua
apakah ini jalan keluar dari semua problema?
karena menyerah sepertinya lebih mudah
dibanding harus terus menerus di rintik mendung tak bercahaya
tak ada lagi senja untuk kita nikmati, apalagi pelangi

kadang ego ego yang keluar dari mulut kita
sifat anak-anak yang masih tersisa
membinasakan cinta

kadang jalan pikiran yang berbeda
kecewa dan putus asa yang tak kunjung reda
membinasakan rasa

harus aku pilih jalan yang mana
sedangkan jalan dibelakang yang aku tinggalkan
terasa sangat jauh tak terjangkau mata

jika aku memutuskan,
untuk mengakhiri semua
apakah aku sepantasnya sendiri saja?

on 31 Desember 2016
benarkah?

setelah berkali uluran tangan
yang ku letakkan dengan harap di atas kepala
benarkah kali ini,
tahun baru?

on 23 Mei 2016
Tak dapatkah,
aku...
hanya menjadi aku
tanpa di uji?

Mengapa dunia senang sekali ikut campur?
Kita adalah dua orang pesakitan
yang merangkak, berharap kebahagiaan dari satu sama lain
kita memutuskan saling bergantung
pada ranting ranting rapuh di ruang jiwa kita yang masih kosong
berusaha saling mengisi
tanpa mengerti apa yang dibutuhkan

Kita bagai dua orang buta
baik arah dan tujuan
yang saling mendamba langit
sementara bumi sangat dekat dengan kaki kaki kita, menempel erat.
Tapi kita punya mimpi yang sama untuk terbang

Kita hanya anak anak kecil yang takut menangis
berusaha tegak walau tubuh kita tinggal ampas
berusaha saling menopang, menolak untuk di topang
sampai hati kita sama sama hancur
karena bisa mulut kita sendiri

Lalu dapatkah kita, bukan sekedar kata?
yang berkali kali aku bisikkan dalam doa di ujung sujud
dapatkah kita, jadi nyata?
dalam remang dunia malam ini, sempatkan aku dalam mimpimu terwujud



Neti Nurhayati