on 10 November 2017
Aku tak pernah membenci hujan
Walau ribuan sepi menggelayar di balik rintiknya
Membuat setiap kenangan seperti di runut ulang,
kembali...
Untuk menghantui mu

Aku tak pernah membenci hujan
Biar dingin meresapi relung jiwa jiwa terlantar di kehampaan malam
Membuatmu merindukan teman minum kopi khayalan

Sampai saat ini,
Saat duniaku terjungkal, jungkir balik
Aku membenci hujan...

Setiap tetesnya masih terasa menusuk nusuk kulitku, lalu membakarnya
Setiap hela udaranya, menampar tepat di wajah, sakit...
Lukanya sampai ke hati
Entah mana yang lebih deras, hujan malam itu atau mataku yang tak hentinya mengiba nasib.

Saat itu, aku mulai membenci hujan
Rasanya aku tak mungkin ingin pergi ke luar  rumah lagi.

on 02 April 2017
jika aku memutuskan,
untuk mengakhiri semua
apakah ini jalan keluar dari semua problema?
karena menyerah sepertinya lebih mudah
dibanding harus terus menerus di rintik mendung tak bercahaya
tak ada lagi senja untuk kita nikmati, apalagi pelangi

kadang ego ego yang keluar dari mulut kita
sifat anak-anak yang masih tersisa
membinasakan cinta

kadang jalan pikiran yang berbeda
kecewa dan putus asa yang tak kunjung reda
membinasakan rasa

harus aku pilih jalan yang mana
sedangkan jalan dibelakang yang aku tinggalkan
terasa sangat jauh tak terjangkau mata

jika aku memutuskan,
untuk mengakhiri semua
apakah aku sepantasnya sendiri saja?