di jendela kau lihat bayangan dirimu
tersenyum menatap indahnya kerumitan jalan tol dalam kota
di antara bunga warna kuning dan tirai jingga
di atas karpet abu abu muda
mobil, motor, taksi dan bis kota
berlalu lalang, bertubrukan berpindah
meloncat marah dari satu jalur ke jalur lainnya
kau makin asik saat burung-burung entah apa namanya,
meluncur membuat barisan naik turun di seberang jendela
jendela mu, di lantai tiga
mereka menukik, menjauh, melintas, riuh
gaduh,
bergemuruh,
membuat barisan, tertib, tanpa keluh
sampai muncul tetes tetes hujan menyayat indah jendela mu
dan kau bergeming, membatu
perlahan muncul kabut, menelan langitmu
yang biru
menyesap indah gelenyar pelangimu
lalu,
kau berbalik arah, berjalan pergi
namun tak kemana mana
kau hanya kembali ke kursi
mengerjakan esai berima
Begitu ceritamu,
selama setahun penuh,
kejadian yang sama berulang-ulang jenuh
Neti Nurhayati