on 23 Mei 2016
Tak dapatkah,
aku...
hanya menjadi aku
tanpa di uji?

Mengapa dunia senang sekali ikut campur?
Kita adalah dua orang pesakitan
yang merangkak, berharap kebahagiaan dari satu sama lain
kita memutuskan saling bergantung
pada ranting ranting rapuh di ruang jiwa kita yang masih kosong
berusaha saling mengisi
tanpa mengerti apa yang dibutuhkan

Kita bagai dua orang buta
baik arah dan tujuan
yang saling mendamba langit
sementara bumi sangat dekat dengan kaki kaki kita, menempel erat.
Tapi kita punya mimpi yang sama untuk terbang

Kita hanya anak anak kecil yang takut menangis
berusaha tegak walau tubuh kita tinggal ampas
berusaha saling menopang, menolak untuk di topang
sampai hati kita sama sama hancur
karena bisa mulut kita sendiri

Lalu dapatkah kita, bukan sekedar kata?
yang berkali kali aku bisikkan dalam doa di ujung sujud
dapatkah kita, jadi nyata?
dalam remang dunia malam ini, sempatkan aku dalam mimpimu terwujud



Neti Nurhayati
on 19 Mei 2016
Ada ibu yang tak ingin ku lupa
meski orang bilang enyahkan dia dari mimpimu
bagaimana bisa?
jika anak yang durhaka ini belum sekalipun melihat kuburmu
ibu, ibu, ibu...
ku kenang kau
ku kenang,
biar ragamu hilang
biar jiwamu pergi
cintamu tetap mengambang, mengalir deras
disini
di tubuhku
disini
di dalam pikirku

ibu, ibu...
ku kenang kau
ku kenang,
sekarang hanya doa
yang dapat ku kirim sebagai hadiah
bukan lagi kue buah sukade kesukaanmu

ibu,
pada setiap hening bulan ini
aku rindu


Neti Nurhayati
on 16 Mei 2016
ada banyak tanya hari ini
haruskah aku berlari pergi
haruskah aku tetap hening disini
atau aku terbang ke seberang negeri

ada banyak bisik bisik
dari ruang di balik jendela mengusik
dan aku berpikir mungkin tak akan lama
aku akan menyerah dan mengaku kalah
aku takut akan ada yang mati
jiwa jiwa gantung diri
tentu saja bukan jiwa orang lain
bukan jiwa orang lain...

ada banyak tulisan
yang aku ulaskan di balik bantal guling kasurku di kamar
ada banyak tangisan
yang aku teteskan di langit langit mulutku yang bungkam
ada banyak ragu
yang selalu muncul walau sudah aku bunuh satu persatu
dan ada kamu
dan air matamu
kelu kelu, aku jadi beku, aku kaku

Neti Nurhayati