on 25 Juli 2013
BATU
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri
        batu mawar
        batu langit
        batu duka
        batu rindu
        batu janun
        batu bisu
        kaukah itu
                        teka
                                teki
        yang
        tak menepati janji ?
    Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan
    hati takjatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan
    seribu beringin ingin tak teduh.  Dengan siapa aku mengeluh?
    Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk
    diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai
    sedang lambai tak sampai.  Kau tahu
        batu risau
        batu pukau
        batu Kau-ku
        batu sepi
        batu ngilu
        batu bisu
        kaukah itu
                                teka
                        teki
                        yang
        tak menepati
                        janji ?
on 19 Juli 2013
kamu.....
citra mu membelenggu rasa ku
tak juga sampaikah pesanku?
melalui udara yang berhembus di dalam ruang mu,
merambat hadir di selentingan bayang mimpi mu,
menggelayut lewat rintik rintik hujan di balik jendela mu,
..... pada hujan malam sabtu


Love,

Neti Nurhayati
dan hening,
dahi ku berkerut kerut
ku telan telan air liurku, dahaga tak juga surut
sesaat,
kurasa cermin di hadapanku retak
lalu membelahku menjadi beberapa petak
namun tak kembali utuh

dan aku kembali jadi nyata,
suara di telepon ini menusuk nusuk telinga
ingin rasanya aku katakan cukup
atau aku tutup!
teleponnya...
namun yang terucap hanya maya
tanpa tegak, diperbesar
 
dan laki laki di seberang sana,
berkata, "deal ya"
"iya", ujarku lemas, gemas
dahi ku kini berdenyut denyut
apa sebenarnya yang ada di kepalanya?
kadang aku rasa, aku bodoh luar biasa

ada tanya tanpa tanda,
haruskah aku menyerah saja?


~Neti Nurhayati
on 10 Juli 2013
Di antara entah,
kau ini tanda tanya

terkadang, tawaku menggema bagai echo
terkadang, asa ku putus lalu aku ingin lupa
terkadang, senyum ku datang lalu pergi semaunya
terkadang, aku ingin hening saja tinggal
lalu aku pura pura tak perduli
namun hampa mu, tawar dan segan itu mengundang untuk di usik
mungkin aku....

bagaimana cara mendeskripkannya?

ku pandangi tulisan mu di layar handphone ku
ku amati raut raut wajahmu
ku analisa tiap ucapan dan sikapmu

kenapa aku?
denganmu?

Oh!
Di antara tanya,
ku pinta jawab


~Neti Nurhayati