dan hening,
dahi ku berkerut kerut
ku telan telan air liurku, dahaga tak juga surut
sesaat,
kurasa cermin di hadapanku retak
lalu membelahku menjadi beberapa petak
namun tak kembali utuh
dan aku kembali jadi nyata,
suara di telepon ini menusuk nusuk telinga
ingin rasanya aku katakan cukup
atau aku tutup!
teleponnya...
namun yang terucap hanya maya
tanpa tegak, diperbesar
dan laki laki di seberang sana,
berkata, "deal ya"
"iya", ujarku lemas, gemas
dahi ku kini berdenyut denyut
apa sebenarnya yang ada di kepalanya?
kadang aku rasa, aku bodoh luar biasa
ada tanya tanpa tanda,
haruskah aku menyerah saja?
~Neti Nurhayati
dahi ku berkerut kerut
ku telan telan air liurku, dahaga tak juga surut
sesaat,
kurasa cermin di hadapanku retak
lalu membelahku menjadi beberapa petak
namun tak kembali utuh
dan aku kembali jadi nyata,
suara di telepon ini menusuk nusuk telinga
ingin rasanya aku katakan cukup
atau aku tutup!
teleponnya...
namun yang terucap hanya maya
tanpa tegak, diperbesar
dan laki laki di seberang sana,
berkata, "deal ya"
"iya", ujarku lemas, gemas
dahi ku kini berdenyut denyut
apa sebenarnya yang ada di kepalanya?
kadang aku rasa, aku bodoh luar biasa
ada tanya tanpa tanda,
haruskah aku menyerah saja?
~Neti Nurhayati
0 komentar:
Posting Komentar