on 31 Desember 2016
benarkah?

setelah berkali uluran tangan
yang ku letakkan dengan harap di atas kepala
benarkah kali ini,
tahun baru?

on 23 Mei 2016
Tak dapatkah,
aku...
hanya menjadi aku
tanpa di uji?

Mengapa dunia senang sekali ikut campur?
Kita adalah dua orang pesakitan
yang merangkak, berharap kebahagiaan dari satu sama lain
kita memutuskan saling bergantung
pada ranting ranting rapuh di ruang jiwa kita yang masih kosong
berusaha saling mengisi
tanpa mengerti apa yang dibutuhkan

Kita bagai dua orang buta
baik arah dan tujuan
yang saling mendamba langit
sementara bumi sangat dekat dengan kaki kaki kita, menempel erat.
Tapi kita punya mimpi yang sama untuk terbang

Kita hanya anak anak kecil yang takut menangis
berusaha tegak walau tubuh kita tinggal ampas
berusaha saling menopang, menolak untuk di topang
sampai hati kita sama sama hancur
karena bisa mulut kita sendiri

Lalu dapatkah kita, bukan sekedar kata?
yang berkali kali aku bisikkan dalam doa di ujung sujud
dapatkah kita, jadi nyata?
dalam remang dunia malam ini, sempatkan aku dalam mimpimu terwujud



Neti Nurhayati
on 19 Mei 2016
Ada ibu yang tak ingin ku lupa
meski orang bilang enyahkan dia dari mimpimu
bagaimana bisa?
jika anak yang durhaka ini belum sekalipun melihat kuburmu
ibu, ibu, ibu...
ku kenang kau
ku kenang,
biar ragamu hilang
biar jiwamu pergi
cintamu tetap mengambang, mengalir deras
disini
di tubuhku
disini
di dalam pikirku

ibu, ibu...
ku kenang kau
ku kenang,
sekarang hanya doa
yang dapat ku kirim sebagai hadiah
bukan lagi kue buah sukade kesukaanmu

ibu,
pada setiap hening bulan ini
aku rindu


Neti Nurhayati
on 16 Mei 2016
ada banyak tanya hari ini
haruskah aku berlari pergi
haruskah aku tetap hening disini
atau aku terbang ke seberang negeri

ada banyak bisik bisik
dari ruang di balik jendela mengusik
dan aku berpikir mungkin tak akan lama
aku akan menyerah dan mengaku kalah
aku takut akan ada yang mati
jiwa jiwa gantung diri
tentu saja bukan jiwa orang lain
bukan jiwa orang lain...

ada banyak tulisan
yang aku ulaskan di balik bantal guling kasurku di kamar
ada banyak tangisan
yang aku teteskan di langit langit mulutku yang bungkam
ada banyak ragu
yang selalu muncul walau sudah aku bunuh satu persatu
dan ada kamu
dan air matamu
kelu kelu, aku jadi beku, aku kaku

Neti Nurhayati


on 19 April 2016
aku ingin menikmati waktu
aku ingin menghirupnya dalam dalam
sampai seluruh tubuhku penuh
kuputuskan waktu hanya milikku

aku ingin dunia berhenti
agar hanya aku dan waktu tinggal sendiri
aku akan mengajaknya ke tempat paling rahasia
tempat yang hanya aku yang tahu saja
lalu kita terbang bersama angin
di atas samudera
berlarian dengan kaki kaki kita
tapi apakah waktu memiliki kaki?
pasti punya
karena ia berjalan sangat cepat
sampai aku khawatir tak dapat menemuinya

aku ingin dapat memeluk waktu
merasakannya,
agar aku tau, kapan ia berlalu
agar aku ingat, kapan terakhir aku merasakan indahnya


Neti Nurhayati



16 tahun yang lalu,
ada cinta yang tak pernah usai
ada hati yang mati, tersakiti
ada tunggu yang tak dinanti
ada tangis yang beku dipendam
ada tanya yang dijawab bungkam
ada cerita yang dikubur dalam dalam
ada rasa yang terbuang
dan aku yang terlupakan

kini,
setelah 16 kali tahun berganti
mampukah kita saling mengerti?
mampukah kita saling memahami?
mampukah kita saling menyayangi tanpa harus saling menyakiti?
mampukah kita saling menguatkan?
mampukah kita saling mengingatkan?
mampukah kita saling bergantung dan sepakat saling mendukung?
mampukah kau hanya melihat aku seumur hidupmu?
tanpa menoleh ke arah masa lalu
dan menyesali keputusanmu

kini,
di antara berjuta tanda dalam tanya di hati
aku tanyakan kembali
masa depanku
pada pundakmu
yang menghilang perlahan, malam itu



Neti Nurhayati

on 13 April 2016
aku menyukainya, ketika kamu berbicara tentang kita
seakan kita adalah kata favoritmu
seakan kita adalah selamanya
wajahmu jadi bersemu
aku lihat cahaya di pusara pupil matamu
kau jadi api
aku jadi hujan
meluluhlantahkan harapan yang kau susun sedari dulu
aku adalah bagian terhitam alam pikiranmu
aku adalah dosa pada doa doa yang terpanjat dalam sujudmu
aku jadi abu
kau jadi kayu, yang terbakar tinggal debu
tapi aku menyukainya ketika kamu berbicara tentang kita
seakan hanya ada aku
di sudut terdalam hatimu


Neti Nurhayati

on 10 April 2016
Aku suka melihatmu dari belakang
memandangi punggungmu yang pergi menjauh
seperti dulu
saat cinta ini hanya milik-ku
saat spasi adalah jarak
saat kelu adalah jutaan ucap tanpa riak
saat bertemu, degup jantung jadi marak

Aku suka menatapmu sembunyi sembunyi
berkali kali,
lagi dan lagi
mengagumi kamu dalam hati
mencintaimu dalam diam
biar hanya aku yang rasa indahnya
biar hanya aku yang tau resahnya

Aku benci mendengar suaramu setiap waktu
mengubah setiap malam, jadi rindu...


Neti Nurhayati


on 03 April 2016
Aku jatuh cinta padamu
setiap bertemu
pada senyummu yang terulas pulas. Culas, memikatku
pada kata yang kau lantunkan berulang kali. Bagai mantra, menghipnotisku
pada matamu di setiap tatapannya
pada nafasmu di setiap hembusnya
pada kilas cahaya di wajahmu saat aku memandangnya

Aku ingin kau jatuh cinta padaku
setiap bertemu
namun bagaimana?
haruskah ku ubah wajahku jadi tiga belas rupa?
atau sudikah Tuhan membuatmu jadi pelupa?
kenapa aku ini kenapa?
harus seperti inikah rasanya,
jatuh cinta?


Neti Nurhayati
Hafid Garibaldi, 12/03/2016

Aku yang paling beruntung
Kutemukan cinta denganmu
Ketika wajahmu bermandi cahaya senja
Senyummu menusuk tepat dihatiku
Bersama tawa nan terselip diantara cerita
Disana...ditengah kemacetan ibu kota
Disana...didalam mobilku yang tua
Aku jatuh cinta, untuk kesekian kalinya
Aku jatuh cinta, apa adanya tanpa paksa
Aku jatuh cinta, kumohon kali ini selamanya
on 21 Maret 2016
Aku merindu mu di setiap pagi
di cahaya pertama saat membuka mata
pada vokal pertama saat kesadaran dan mimpi saling menguji

kau mungkin masih lelap
membangun dunia yang kau inginkan sendiri
tempat dimana tak ada seorang pun yang mengusik cita harap mimpi mu
tempat dimana kau bebas menjadi kamu, yang kau mau

aku merindu mu di setiap pagi
dan aku bersyukur memiliki rasa ini



Neti Nurhayati

PS : Selamat Hari Puisi Sedunia :)
on 15 Maret 2016
ku tinggalkan harapku
di entah ruang antah
aku tak mau terbuai
makin merekah, senyumku
makin sering ku benamkan kepalaku di lumpur hisap
tolong jangan buat aku terlena

aku simpan rasa kecewa di sebaik baik ruang jiwa
aku buang cinta, lebih baik kelu mati rasa
aku siap, lebih dari yang kau duga

jika sampai di sabtu dini hari kau pergi
lagi, kembali, mengulang dinginnya lampau memori
aku ingin melepas hadirmu dengan senyum dikulum
aku ingin mengaggap mu
seperti mimpi
saat aku terbangun nanti


Neti Nurhayati


on 01 Maret 2016
Di ujung ujung doa ini,
Terima kasih, sudah menguatkan
Sudah meluangkan waktu di antara ruang ruang kesibukan
Terima kasih, untuk tawa yang selalu kau berikan padaku cuma cuma
Untuk cerita cerita manis, yang menentramkan
Untuk harapan harapan yang rela kau bagi bersama
Untuk energi yang seolah tak ada habisnya
Terima kasih,
Untuk malam malam yang menjadi begitu singkat di antara ribuan kendaraan

Di ujung ujung doa ini,
Semoga setiap harimu juga semenyenangkan ini


Neti Nurhayati
on 21 Februari 2016
aku ingin menjadi partikel terkecil dalam tubuhmu
yang dapat menelusup melalui pori pori kulitmu
aku ingin mengalir dalam darahmu
ikut berdetak detak di jantungmu
lalu masuk ke dalam pikiranmu
melihat mendengar merasa mengerti, dirimu

lalu pelan pelan biarkan aku menuju hatimu
dan izinkan aku berada disana selamanya,
dapatkah?


Neti Nurhayati
on 03 Februari 2016
Aku takut pada orang orang yang yakin
keyakinan mereka melebihi cinta adam
hanya dengan imaji, simsalabim
seperti tak ada yang mustahil
aku tak pernah percaya apa perkataan mereka
namun mereka mengganjarku dengan harapan yang terkabul

Apa yang dipikirkan orang orang yang yakin?
aku berusaha menelusup ke dalam tiap lobus celebrum pada kepala kepala congak mereka
ARGH! kenapa cuma aku yang tidak percaya, semua omong kosong!
senyum seyum mereka membuat aku lemah
semua analisa tetek bengek sebab akibat resiko give and take, ya semua teori itu
terbantah

Aku benci kepada orang orang yang yakin
mereka melemahkan kewaspadaanku
semua energi negatif hilang, tak ada jurang antara keberhasilan dan kegagalan
mereka tidak takut akan apa apa yang nanti mungkin terjadi
mereka tidak punya rencana rencana B, C, D sampai Z
mereka tidak pengecut
wajah mereka merah oleh darah, air mata dan doa

Aku sekarang bersama orang orang yakin
yang nafasnya berhembus memburu mimpi mimpi mereka
yang semangatnya membumihanguskan hal muskil di depan mereka


Neti Nurhayati