ku layangkan pandanganku setengah lingkaran bumi
seluas luasnya jangakauan mata
namun arahnya selalu kembali lagi ke satu titik
ke atas sana, ke langit warna jingga
mungkin sudah berkali hujan asam nanar menampar wajah
kepulan asap hitam juga sudah banyak terhirup
apa mungkin aku,
terlalu dungu, bebal dan tak punya malu
jika demikian biarlah,
karena kesempatan ini untukku hanya cuma satu
biar dungu, biar tak punya malu, biar...
berkali-kali aku bertanya
dapatkah aku ke atas sana?
ke langit warna jingga,
setiap melihatnya jantungku berdegupan
harap yang ku pendam pendam ini dapatkah?
rasa yang ku benam benam ini dosakah?
rindu yang seringkali ku bunuh ini siakah?
dan aku jadi merasa sangat kerdil
ku ubah arah pandanganku ke arah barat daya
dimana langit selalu berwarna putih
tak berwarna
hampa,
haruskah?
tak dapatkah hatimu yang luluh lumer ke bumi
dan tak sedingin ini?
Neti Nurhayati
seluas luasnya jangakauan mata
namun arahnya selalu kembali lagi ke satu titik
ke atas sana, ke langit warna jingga
mungkin sudah berkali hujan asam nanar menampar wajah
kepulan asap hitam juga sudah banyak terhirup
apa mungkin aku,
terlalu dungu, bebal dan tak punya malu
jika demikian biarlah,
karena kesempatan ini untukku hanya cuma satu
biar dungu, biar tak punya malu, biar...
berkali-kali aku bertanya
dapatkah aku ke atas sana?
ke langit warna jingga,
setiap melihatnya jantungku berdegupan
harap yang ku pendam pendam ini dapatkah?
rasa yang ku benam benam ini dosakah?
rindu yang seringkali ku bunuh ini siakah?
dan aku jadi merasa sangat kerdil
ku ubah arah pandanganku ke arah barat daya
dimana langit selalu berwarna putih
tak berwarna
hampa,
haruskah?
tak dapatkah hatimu yang luluh lumer ke bumi
dan tak sedingin ini?
Neti Nurhayati
0 komentar:
Posting Komentar